Berbagi Buku agar Lebih dari Seribu
Agustus 6th, 2008Tentang aksi pengumpulan sumbangan 1.000 buku itu Anda sudah mendengar. Namanya Gerakan Seribu Buku. Siapa (saja) di balik itu? Mulanya saya hanya menanya seorang, yaitu Mr Bambang. Karena dia tak merasa berwenang menjawab sendirian maka kawan lain pun terundang.
Hasilnya adalah sebuah konferensi Yahoo! Messenger yang meriah, ceblang-ceblung. Serasa membuka-buka buku di kios loak. Satu sampul baru terbaca, sudah tersodor buku lain tapi hanya halaman indeks kata saja. Ketika saya baru bernapas sebentar sudah muncul sobekan buku lama berisi peta buram.

Sungguh membingungkan. Kawan-kawan itu benar. Saya kurang gaul.
Baru pertama kali ini saya konferensi Y!M dengan banyak peserta dari komunitas Bunderan Hotel Indonesia (Jakarta).
Saya terjepit di antara rak-rak dengan buku-buku yang halaman lepasnya menjulur keluar meninggalkan jilidan. Dari ambalan tengah di rak pojok muncullah pengakuan, ide 1.000 buku berasal dari Pitik. Teman-temannya mengiyakan. Lantas mencuatlah bookmark: ide juga dimatangkan oleh Ipoul, raja kambing dari terra incoginita Bangsari.
Bangsari? Itu sebuah desa yang setanding kasus dengan Selandia Baru yang lebih banyak biri-biri ketimbang manusianya. Di Bangsari, tentu, lebih banyak kambing daripada blogger(s)-nya.
Kambing dan Bangsari. Ipoul dan Bangsari. Jangan mengganti “dan” menjadi “sama dengan” lalu meyimpulkan. Yang pasti, itu mengingatkan kita kepada program solidaritas blogger tahun lalu: Bloggers for Bangsari. Mengumpulkan sumbangan untuk membeli kambing agar si embek bisa dipiara secara gaduh sehingga hasilnya bisa oleh anak-anak desa itu untuk membayar sekolah.
Dengan spirit mulia wedhus prengus pula teman-teman BHI, yang didukung oleh komunitas Yogyakarta Cah Andong (antara lain Antobilang), menyusul langkah komunitas Semarang Loenpia. Mengumpulkan buku untuk disumbangkan kepada peminat bacaan yang tak berkelimpahan buku.
Ke mana saja buku itu akan mendarat? Jika jumlah banyak mungkin akan tersebar ke beberapa perpustakaan kampung. Kawan-kawan Gerakan Seribu Buku akan meminta tolong jaringan perkawanan dengan komunitas lain yang lebih paham petanya.Kadang dari siapa pertama kali ide terlontar itu tak penting benar.
Chatting dengan kawula BHI menyodorkan kesan bahwa cuatan isi benak hanya akan berkilau jika digosok dan digembungkan oleh pasamuwan. Nama-nama penggosok itu tak muncul di sini karena saking banyaknya.
Gema mulai terdengar. Beberapa blog mulai memasang banners. Yang menarik, spanduk digital yang mulanya didesain oleh Antobilang itu kemudian beranak-pinak, sehingga kreasi bloggers lain pun bermunculan. Misalnya karya Yoyok Kesambet. Di luar banners adalah posts pada beberapa blog.
Semangat berbagi dan pelaksanaannya memang bisa menjadi virus. Menyebar. Menular. Di mana pun hostingnya, apa pun (sub)domainnya, bloggers bisa bahu membahu.
Ilmu dibagi takkan terkikis. Pengetahuan dikuras takkan tandas. Yang dibutuhkan hanya kerelaan Anda semua. Sumbangkanlah walau hanya satu buku. Hasilnya akan melebihi angka seribu.
Tak ada buku? Menyumbang uang pun pasti tak membuat Anda ragu.
© Ilustrasi: Antobilang
Agustus 6th, 2008 at 10:10 pm
Ada juga gerakan dan komunitas serupa yang sudah eksis: http://www.1001buku.org
Agustus 6th, 2008 at 11:51 pm
terima kasih bu hepi. betul itu. justru karena tak hanya satu atau dua maka hal seperti ini layak dibagikan, dengan harapan pelakunya kian berbiak
Agustus 7th, 2008 at 12:50 am
hehehe… pokoknya baca buku..
Agustus 7th, 2008 at 7:31 am
baca buku biar tambah pinter
Agustus 7th, 2008 at 5:37 pm
ayo dukung kegiatan ini!
sekecil apapun peranmu, akan ngasih sumbangan berarti untuk tercapainya tujuan gerakan…
Agustus 8th, 2008 at 8:26 pm
lah…yang soal asia carera kuwi gak disebut pisan, Paman?
Agustus 9th, 2008 at 10:30 am
mantab surantab. ditunggu donasinya lho… hehehe
Agustus 10th, 2008 at 12:55 pm
mohon maaf kalo bingung, paman. anak2 BHI itu memang salah minum obat kok
Agustus 12th, 2008 at 9:36 am
yuk!!
Agustus 12th, 2008 at 11:55 am
semoga sayapun bisa berbagi secepatnya.
.::he509x™::.